fenomena girl dinner

Fenomena ‘Girl Dinner’: Gaya Hidup atau Kebiasaan Tak Sehat?

Lyfe

nouranoor.com – Perkembangan media sosial yang sangat cepat, selain membantu penyebaran informasi secara instan tetapi juga sering menciptakan tren seru bagi berbagai kalangan. Salah satu tren atau fenomena yang cukup viral saat ini di media sosial yaitu girl dinner.

Walaupun tren ini baru viral sejak 2023, namun tanpa sadar kebiasaan ini sudah menjadi umum di kalangan anak muda sejak lama. Secara singkat tren ini merupakan fenomena di mana seseorang memilih menu makan seadanya bahkan campur aduk tergantung apa yang tersisa di lemari penyimpanannya.

Sebagai contoh, kalian pasti pernah membuka kulkas, melihat sisa keju, anggur, kerupuk, lalu berpikir, “Udah deh, ini aja makan malamnya”? Jika kalian pernah atau sering pada situasi seperti itu, artinya kalian sudah mengalami fenomena yang namanya girl dinner.

Tren ini viral melalui media sosial TikTok, dan banyak para wanita yang merasa ‘terwakili’ dengan konsep ini. Namun, timbul pertanyaan apakah ini gaya hidup modern yang praktis atau justru tanda kebiasaan makan yang tidak sehat?

Apa itu ‘Girl Dinner’?

Istilah girl dinner adalah semacam kreasi ‘snack plate’ ala pribadi, yaitu campuran aneka makanan ringan yang umumnya tidak termasuk dalam kategori ‘makan malam sungguhan’. Tren ini sering di antara kita lakukkan di saat malas memasak atau menunggu lama jika pesan online makanan.

Pada akhirnya memilih memakan apapun yang tersisa di lemari penyimpanan atau kulkas. Misal ada sisa keju, potongan buah, dan kacang-kacangan, itulah yang kita pilih sebagai menu makan saat itu. Jadi tidak ada aturan baku, intinya apapun campuran makanan yang ada dan bisa membuat kalian kenyang saat itu.

Tren ini mulai viral sejak Olivia Maher (@liviemaher) mengupload video ‘makan malam’ ringannya dan menyebutnya girl dinner pada 2023 melalui Tiktok. Dalam video tersebut Ia menggoreng berbagai macam roti, keju, anggur, dan cornichon, dan mengklaim bahwa itu“something a medieval peasant might eat.”

Baca Juga:  Industri Makanan Tidak Butuh Food Vlogger

Sejak itu, muncul berbagai video yang menampilkan piring-piring makan malam penuh kreativitas atau ‘kekacauan’. Hal ini sangat menarik, karena banyak orang terutama perempuan yang merasa relate dengan tren ini. Kebiasaan makan malam seperti ini sudah lama mereka lakukan, namu baru saat ini ada istilahnya.

Fenomena Sosial di Baliknya

Di balik fenomena girl dinner yang kreatif dan lucu ini, tentunya banyak hal menarik yang bisa kita bedah. Bagi perempuan sendiri, tren ini menjadi salah satu pilihan aktivitas untuk me time.

Untuk mengikuti tren ini, kalian tidak perlu repot melakukan proses memasak yang lama. Cukup membuat kreasi mencapur berbagai makanan yang tersedia tanpa perlu mengikuti standar ‘makan malam ideal’.

Tentu saja dengan proses yang sederhana, namun kita tetap bisa menikmati makanan sesuai cara sendiri. Tren ini bisa menjadi sangat menyenangkan, karena siapapun bisa makan tanpa harus berkutat dengan proses mengolah makanan yang rumit.

Selain itu, khususnya bagi perempuan yang sering mengalami tekanan sosial untuk tampil sempurna di segala aspek, termasuk soal makanan. Dengan adanya tren ini, bisa menjadi bentuk ‘pembebasan’.

Adanya tekanan sosial, sering membuat perempuan terjebak dengan pola makan yang sebenarnya tidak sesuai dengan kebutuhannya. Tren ini hadir sebagai antipati, yang tentunya bisa bebas berkreasi sesuai keinginan sendiri.

Antara Coping dan Pola Makan

Girl dinner bukanlah tren yang tiba-tiba muncul, tren ini ada dari kebiasaan kebanyakan orang yang makan cepat, seadanya, bahkan sambil rebahan (coping). Kebiasaan coping umumnya karena beban pekerjaan yang tinggi sehingga waktu makan sedikit atau bahkan pelarian dari stres atau kelelahan.

Istilah ini pun semakin mendukung kebiasaan coping, selain relate juga sangat kreatif terlebih menjadi tren yang viral sehingga semakin lumrah. Namun di balik itu semua, jika terlalu sering mengikuti tren ini bisa mempengaruhi pada pola makan.

Hal buruk yang mungkin terjadi adalah pola makan jadi tidak teratur (disordered eating). Tren ini cukup mempengaruhi karena bisa mengganti makan malam dengan menu seimbang hanya dengan potongan buah, kacang, atau segelas kopi.

Baca Juga:  Rekomendasi Film Indonesia Spesial Lebaran 2025

Jadi tren ini bukanlah hal tepat untuk menjadi kebiasaan atau rutinitas makan malam. Sebaliknya cukup jadikan tren ini sebagai pengganti sesekali pada saat tertentu saja.

‘Girl Dinner’ dari Segi Gizi

Jika melihat dari segi gizi, tren ini tentunya masih dalam kategori aman selama tetap memperhatikan keseimbangan gizi. Jangan sampai hanya untuk sekadar ikutan tren akhirnya melupakan nilai gizi dari makanan yang akan kita konsumsi.

Misal, di lemari penyimpanan atau kulkas hanya tersisa beberapa butir anggur dan chips, lalu memutuskan itu untuk jadi makan malam. Tentu saja yang seperti itu sangat tidak baik, karena sudah pasti tidak memenuhi nilai gizi yang tubuh butuhkan.

Untuk itu kita bisa membuatnya menjadi versi lebih sehat, contoh potongan buah alpukat, telur rebus, dan roti gandum. Kalian juga bisa menyesuaikan dengan selera masing-masing, yang terpenting minimal harus ada karbohidrat, protein, dan serat.

Intinya jangan hanya sekadar mengikuti tren, tanpa memperhatikan nilai gizi dan nutrisi yang kita konsumsi. Jangan jadikan tren ini sebagai alasan bagi kita untuk mengkonsumsi makanan secara asal. Tetap harus menjaga frekuensi dan menu yang akan kita konsumsi.

Tren Seru atau Tanda Bahaya?

Di era yang segala sesuatunya butuh cepat, mulai dari tuntutan pekerjaan dan aktivitas lainnya, tentu tren ini sangat relate bagi kita. Bisa makan cepat, simpel, dan tanpa drama.

Sesekali tentunya tidak ada masalah, namun jika sudah menjadi kebiasaan tentunya harus memperhatikan nilai gizi dari menu yang kita pilih. Semakin tinggi aktivitas kita, tentunya semakin banyak energi yang kita perlukan. Jangan sampai tren makan serba praktis dan cepat ini malah menormalkan kebiasaan makan yang minim gizi.

Jadi kalau kalian suka atau sudah mengikuti tren ini namun dengan menu yang sangat minim nutrisi mulai perbaiki sekarang. Pastikan piring kalian tetap punya warna-warni gizi, bukan cuma warna pastel dari camilan estetik.

Kalian gimana? Pernah bikin girl dinner versi kamu sendiri? Cerita di kolom komentar ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *